koneksi sanad dengan kajian ibadah
NAMA : IQLIMA NASUTION
NIM : 1820100023
KELAS : PAI 6
SEMESTER : 5
ALAMAT : BATANG TORU
NO. HP : 082294266680
ALAMAT E-MAIL : nasutioniqlima@gmail.com
KONEKSI ANTARA SANAD DENGAN KAJIAN IBADAH
Pengertian Sanad
Pengertian Sanad Hadits. Dari segi bahasa, sanad artinya yang menjadi sandaran, tempat bersandar, arti yang lain sesuatu yang dapat dipegangi atau dipercaya. Dalam istilah ilmu hadis sanad ialah rangkaian urutan orang-orang yang menjadi sandaran atau jalan yang menghubungkan satu hadis atau sunnah sampai pada Nabi Saw. Sanad menurut istilah ahli hadis yaitu: “Jalan yang menyampaikan kepada matan hadis.” Atau dalam istilah lain “Mata rantai para periwayat hadis yang menghubungkan sampai ke matan hadis.” Menerangkan rangkaian urutan sanad suatu hadis disebut isnad. Orang yang menerangkan sanad suatu hadis disebut musnid. Sedangkan hadis yang diterangkan dengan menyebutkan sanadnya sehingga sampai kepada Nabi Saw. disebut musnad.
Pengertian Ibadah
Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah :
Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap. Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.
Dalil
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَرَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ وَفَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يُعَارِضُهُ الْقُرْآنَ
Artinya : telah bercerita kepada kami Muhammad bin muqotil telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhriy berkata telah bercerita kepadaku Ubaidullah bin ‘Abdullah dari Ibnu ‘Abbas r.a berkata, bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan dan terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat jibril mendatanginya dan jibril mendatanginya setiap malam dari bulan Ramadhan, dia mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau. Sungguh Rasulullah ketika di datangi jibril kedermawaannya melebihi angina yang berhembus”. Dan dari ‘Abdullah telah bercerita kepada kami Ma’mar dengan sanad-sanad ini dan yang semisalnya. Abu Hurairah r.a dan Fathimah juga meriwayatkan bahwa Jibril memaparkan ( membacakan ) Al-Qur’an kepada beliau.
Manfaat Sanad
Sanad melindungi umat Islam dari ketergelinciran dan serangan musuh yang tidak diduga. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Muhammad bahwa perumpamaan orang yang menuntut ilmu agama tanpa sanad sama halnya dengan orang yang menaiki tempat yang tinggi tanpa menggunakan tangga. Syafi’I juga mengingatkan, “Perumpamaan orang yang mempelajari hadis tanpa sanad adalah seperti seseorang yang membawa kayu bakar pada malam hari. Di dalam ikatan kayu itu ada seekor ular sangat ganas yang siap menggigitnya, sedangkan dia tidak menyadari keadaan tersebut. Beberapa nilai lebih sanad, sebagaimana disebutkan di atas, membuat sanad menjadi pembeda umat Islam dari umat lainnya. Sanad merupakan suatu potensi kekuatan Islam yang tidak dapat ditandingi oleh umat lainnya. Dengan adanya sanad, secara umum, ajaran Islam dapat steril dari segala macam bentuk perubahan, infiltrasi dan pemutar balikkan. Sedangkan di pihak lain, ajaran yang dibawa oleh rasul-rasul selain dari Muhammad tidak memiliki imunitas semacam itu. Abû Hatim al-Radzi mengatakan, “Tidak ada satu umat pun sejak Nabi Adam as. diciptakan yang memiliki suatu standar (pegangan) untuk memelihara atsar para rasulnya selain dari umat Islam ini.” Muhammad bin Hatîm al-Mazhfar juga mengatakan, “Sesungguhnya Allah SWT. telah memuliakan dan melebihkan umat Islam dengan isnâd.
Cara mengamalkannya di dalam kehidupan sehari-hari
Pengamalan sanad dalam kehidupan kita sangat banyak dijumpai, terlebih munculnya hadis-hadis baru yang dibutuhkan keaslian hadis tersebut. Dalam keadaan inilah sanad sangat dibutuhkan untuk membenarkan hadis itu shahih atau tidak.
Contohnya dalam kehidupan :
Ada seseorang berkata, apabila adzan sedang dikumandangkan kita tidak boleh tidur karena jika kita tidur sewaktu kita meninggal nanti jenazah kita akan berat.
Ternyata hadis ini adalah hadis palsu tidak benar adanya, sebagai bukti :
Dalam sebuah hadis, memang ada riwayat yang menyebut supaya bangun ketika mendengar laungan azan. Namun, ia merupakan hadis palsu kerana sanad hadis itu terdapat seorang perawi yang dihukum sebagai pendusta oleh kebanyakan ulama. Bukan itu saja, semua hadis yang menyatakan bahawa sesiapa yang berbaring ketika azan, mayatnya menjadi berat adalah hadis palsu.
Perkara itu telah dinyatakan oleh Sheikh Ali Al-Halabi ketika beliau diajukan soalan berkenaan hadis-hadis berkenaan. Meskipun begitu, janganlah kita lalai untuk menjawab azan yang dilaungkan. Daripada Abu Sa’id Al-Khudri bahawa Nabi Muhammad SAW bersabda: "Jika kalian mendengar seruan azan maka katakanlah seperti mana yang dikatakan oleh tukang azan.” (Riwayat al-Bukhari).
Jika kita koneksikan dengan ibadah, tentu saja sangat masuk akal. Mengapa ? karena tidak ada hukum dijatuhkan kepada orang yang sedang tidur. Sebagaimana hadis ini menjelaskan :
مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا
“Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim, no. 684).
Dalam hadis ini sudah jelas bahwa tidak ada hukum bagi orang yang lupa dan tidur. Dengan adanya hadis ini jelaslah bahwa hadis jika seseorang tidur sewaktu adzan jenazah akan berat adalah hadis palsu. Meskipun begitu sebagai ummat islam haruslah menghargai adzan dengan tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan sewaktu adzan.
Kesimpulan
Sanad sangat dibutuhkan atau sangat perlu dipelajari dalam kehidupan sehari-hari agar tidak mudah percaya dengan adanya hadis baru yang tidak jelas siapa periwayatnya. Dengan mempelajari sanad ini tentu membuat kita akan semakin teliti dalam mengambil atau menyimpulkan suatu hadis.
Komentar
Posting Komentar